Dari Kebun Ke Dapur: Kisah Donat Bimbul

Siapa sebenarnya Abah Yadi? 

Kalau di kampung ada gelar “Sosok Paling Aktif”, udah pasti Mang Yadi yang masuk urutan pertama.
Setiap pagi, dia udah nongol di kebun: nyiram tanaman, metik sayuran segar, dan ngerawat pohon kayak ngerawat anak sendiri. Hasil panennya? Bukan buat dijual, tapi dibagi-bagi ke tetangga. Jadi nggak heran kalau semua orang kenal dia bukan cuma karena rajin, tapi juga karena hatinya yang gede.



Selain aktif di dunia nyata, Mang Yadi juga punya panggung di dunia maya—TikTok.
Di sana, dia bawa tiga tema utama: Farming (berkebun), Learning (belajar), dan Singing (nyanyi). Kadang nunjukin cara nanam cabai, kadang nyanyi sambil nyiram tanaman, kadang ngobrol random sama penonton. Suasananya santai, hangat, dan bikin betah. Kalau ikut live-nya, rasanya kayak nongkrong di pos ronda: ada canda, ada cerita, dan kadang nyanyian dadakan.

Dari Kehidupan Sehari-hari Ke Dunia Donat. 

Awalnya, Mang Yadi bikin donat cuma untuk keluarga dan teman dekat. Tapi karena teksturnya empuk, rasanya enak, dan bentuknya unik, pesanan mulai berdatangan. Dari situlah lahir Donat Bimbul, usaha kecil yang jadi kebanggaan Mang Yadi.

Mang Yadi nggak sendiri. Ada Kang Maul, partner setia yang selalu siap ikut eksperimen. Dari kombinasi mereka, lahirlah nama Donat Bimbul—singkatan dari Bibim (Mang Yadi) dan Gembul (Kang Maul). Namanya sederhana tapi punya makna, dan bikin orang senyum sebelum nyicip.


Beda generasi, tapi satu tujuan: bikin Donat Bimbul dikenal orang.
Kalau Abah Yadi fokus di dapur, Kang Maul yang kebagian urusan ide kreatif. Dia yang pertama kali nyeletuk:

> “Bah, bikin donatnya sambil live di TikTok aja. Kalau ada yang kirim gift, donatnya kita bagiin gratis buat warga. Seru, rame, sekaligus berbagi.”



Abah setuju. Sejak itu, hampir setiap sore, dapur kecil mereka berubah jadi studio live TikTok.
Bukan cuma masak, tapi juga menghibur dan mengedukasi. Dengan gaya ceria dan bersahaja, Abah nyapa penonton satu per satu. Sambil ngulenin adonan, dia sering nyelipin nasihat hidup atau sekadar melucu.

Kang Maul bikin suasana makin hangat. Kadang promosi donat dengan gaya kocak:

> “Beli dua donat, gratis doa dari Abah biar rezekinya lancar.”





Gift pun mengalir. Sesuai janji, setiap gift dipakai untuk bikin Donat Bimbul gratis bagi warga kampung. Anak-anak ngantri sambil ketawa, orang dewasa nyicip sambil senyum, dan penonton live merasa ikut terlibat dalam kebahagiaan itu.

Tentu, prosesnya nggak selalu mulus.
Kadang adonan kelembekan, kadang kerasnya kebangetan, bahkan pernah gosong gara-gara kelamaan ngobrol di live. Tapi setiap kegagalan malah jadi bahan ketawa. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya resep yang pas ketemu.

Donat Bimbul punya ciri khas: lembut di dalam, manis gurih di luar, dan ukurannya pas—sekali hap kalau lagi lapar, lima kali hap kalau sok diet.

Waktu pertama kali dibagiin ke tetangga dan teman, responnya luar biasa:

> “Enak, Bah! Jualan ini aja!”





Itulah momen Abah Yadi sadar, ide iseng ini punya potensi besar.
Sekarang Donat Bimbul lebih dari sekadar jajanan. Ia jadi simbol persahabatan, kreativitas, dan bukti kalau ide kecil bisa jadi cerita besar. Dari kebun ke dapur, lalu ke hati banyak orang—perjalanannya sederhana, tapi penuh rasa. ❤️

Komentar